Cerita Sex MENGEJAR SHINKANSEN – Part 3

Cerita Sex MENGEJAR SHINKANSEN – Part 3by adminon.Cerita Sex MENGEJAR SHINKANSEN – Part 3MENGEJAR SHINKANSEN – Part 3 Otaku is Weird #Pov Fahmi Aku adalah Otaku anehkah? Apabila engkau pernah mendengar orang yang hobi dengan Golf atau suka dengan hobi racing atau mancing atau apapun itu, maka sebenarnya menyukai anime dan manga itu juga adalah hobi yang harus dihormati. Orang seperti aku yang menekuni hobi anime, manga, tokusatsu […]

multixnxx- Hikaru Kirameki Hikaru Kirameki enjoys s-4 multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-0 multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-5 (1)MENGEJAR SHINKANSEN – Part 3

Otaku is Weird
#Pov Fahmi

Aku adalah Otaku anehkah?
Apabila engkau pernah mendengar orang yang hobi dengan Golf atau suka dengan hobi racing atau mancing atau apapun itu, maka sebenarnya menyukai anime dan manga itu juga adalah hobi yang harus dihormati. Orang seperti aku yang menekuni hobi anime, manga, tokusatsu bahkan pada event-event tertentu aku melakukan cosplay tentulah harus dihormati layaknya mereka yang suka golf, suka mancing, suka hiking, suka racing, suka apapun itu. Ya, tentu saja. Dengan banyaknya event-event yang ada di kota ini, aku terkadang ikut menyemarakkannya dengan cosplay.

Tahu kan apa itu cosplay? Yeah, costum player. Aku pernah menjadi Kamen Rider Kabuto. Aku juga pernah menjadi Uchiha Madara. Mungkin sebagian orang menyangka orang seperti aku ini aneh. Yeah, aneh. Bangga dengan dandanan unik seperti itu, bangga dengan dandanan seperti tokoh anime yang dikagumi, tapi apakah ini bisa disebut aneh?

Menurutku wajar saja seseorang menyukai tokoh tertentu. Menyukai sifat mereka, bahkan terkadang meniru mereka. Aku terkadang juga meniru bagaimana kamer Rider berubah. Menurutku itu sesuatu yang keren, atau bagaimana para ranger berubah keren sekali. Kalau kalian anggap itu konyol, maka bagiku tidak. Apa kalian merasa konyol ketika meniru gaya artis-artis ketika mentas di panggung? Apa kalian merasa konyol ketika meniru tingkah seorang pemain bola yang baru saja menjebol gawan lawannya? Kalau kalian merasa tidak maka aku juga merasa tidak dengan meniru mereka.

Pagi itu kakakku yang paling menyebalkan Kak Nurul menggodaku, “Cieeehhh…yang dapat poin 100”

Dari mana dia tahu?

“Bunda yang ngasih tahu,” kata ibuku sambil terkekeh-kekeh, seolah-olah beliau bisa telepati membaca pikiranku.

“Waaah…. bunda jahat!” rutukku.

“Kamu itu banyak ditolak soalnya kamu aneh Mi! Dasar Otaku,” katanya.

“Eh, Otaku itu nggak aneh”

“Anehlah, kaya’ masa kecil kurang bahagia aja.”

“Yang lebih aneh itu mbak Nurul, dari dulu sukanya ama hal-hal yang berbau Korea, dan kalau ketemu bintang film korea suka-suka histeris nggak jelas. Padahal lho, nggak diapa-apain. Siapa yang aneh coba?”

“Justru itulah pesona cowok korea. Mereka itu ganteng, seksi, cakep, aku nggak diapa-apain aja sampai histeris, apalagi kalau dipegang, aaaahhhh…bisa lumer.”

“Nah, kan. Siapa sekarang yang aneh.”

“Ya kamu dong, masa’ segedhe gini masih seneng ama Satria Baja Hitam. Hahahahaha.”

“Eh, Kamen Rider itu ada macem-macem ratingnya nggak cuman buat anak kecil. Kalau nggak tahu nggak usah ngehina deh!”

“Huu… dasar Reject. Direject direject direject ajaa!” Kak Nurul nyanyi-nyanyi nggak jelas.

“OK, baiklah. Aku akan keluarkan Clock UP biar aku gelitikin kamu sampe mampus. CLOCK UP!” kataku sambil meniru gerakan Kamen Rider Kabuto.

Kamen Rider Kabuto adalah salah satu serial kamen Rider yang cukup sukses. Armornya berwarna merah dan terlihat tebal dalam mode biasa. Tapi ketika sudah cast off dia akan berubah lagi dan memakai helm Kabuto. Tahu kan apa itu Kabuto? Itu lho seperti kumbang bertanduk satu. Nah, kemampuannya adalah CLOCK UP, yang mana kecepatannya melebihi kecepatan suara. Dan dengan mode Clock UP dia bisa bergerak lebih cepat dan melihat semua yang ada di sekitarnya menjadi lambat. Aku dan kakakku sekarang kejar-kejaran mengitari meja makan. Setelah aku dapat, aku gelitikin dia sampe mampus.

“Aduuuh…hahahaha… Udah Mi, udaaah…dasar Reject! Mi Goreng! Hentikaaan….! Mi kuah hentikaaan!”

“Sudah-sudah, kalian ini pagi udah ribut,” ibu menengahiku. “Nih, ibu bawain nasi pecel Tulung Agung.”

“Whoaaa….sarapan pecel, OK kita gencatan senjata dulu,” kataku sambil menyilangkan tanganku.

“Awas, ntar aku balas!” kata Kak Nurul.

“Kamu ini jadi kakak nggak ngehibur adiknya, malah diejek. Dicariin pacar kek apa gimana gitu,” kata ibu.

“Cewek mana yang suka ama cowok aneh kaya’ dia?” ejek kakakku.

Aku jadi semakin emosi. “Baiklah, kita taruhan!”

“OK, siapa takut?”

“Kalau sampai nanti aku dapet cewek yang bisa suka ama otaku seperti aku ini, maka mbak Nurul harus mau gantiin posisiku bersih-bersih rumah selama sebulan.”

“Hahahaha, siapa takut. Dan aku ngasih waktu kamu satu bulan. Kalau dalam waktu satu bulan kamu nggak dapet ceweknya maka kamu yang bakalan jadi orang yang bersih-bersih rumah selama sebulan!”

“DEAL!” aku dan kakakku berjabat tangan.

Ibuku hanya geleng-geleng saja, “Udah, udah, ntar ibu jodohin kamu ama temen ibu aja.”

“Ah, bunda ini. Ini bukan jaman Siti Nurbaya lagi bund!” kataku.

“Hahahahaha, kalau cowok mah namanya Soto, kalau perempuan Siti,” ejek kakakku lagi. Aku pun mengambil rempeyek yang dia punya. “Eh, curang! Balikin itu punyaku!”

Aku pun kemudian dijewer oleh ibuku. Juga Kak Nurul. “Udaaah…ini mau makan nggak? Copot ini telinga kalau kalian nggak akur!”

“I..iya deh bund, akur akur!” kataku.

“Ampuun bund, akur deh akur!” kata kakaku sambil mengampun-ampun.

Kami pun tenang lagi setelah ibu melepas jewerannya. Aku masih menjulurkan lidah ke kakakku, dia juga. Tapi pagi itu segala kehebohan di meja makan bisa reda. Rasa renyahnya rempeyek dan gurihnya sambel pecel membuatku melupakan kejadian pagi itu. Tapi setelah selesai makan, setelah meja makan dibereskan, kakakku pun menepuk pundakku.

“Berjuanglah anak muda. Waktumu satu bulan,” katanya.

“Iya, iya, dasar bawel!” rutukku.

***
Entahlah aku sendiri tak faham kenapa aku dan kakakku berbeda padahal kami lahir dari rahim yang sama. Segala sifat kami bertolak belakang. Eh, nggak juga sih. Kami sama-sama pinter. Hari ini ada pameran Expo salah satu produk air minum di salah satu mall di kota ini. Expo ini ada banyak macam pameran. Dari mulai pameran action figure, pertunjukan tari, sampai lomba cosplay. Sayangnya hari itu aku tidak ikut cosplay. Banyak sebenarnya piala yang sudah aku dapatkan dari lomba cosplay. Kakakku sempat terheran-heran ketika aku bisa memakai kostum Kamen Rider Kugaa yang mirip aslinya. Aku masih menyimpan kostum itu. Nah, di dalam expo ini aku tak ingin kalah. Aku juga sedang bersiap untuk ganti kostum. Aku sudah membawa ransel yang berisi kostumku.

Aku masuk ke dalam mall, yah banyak juga cewek-cewek yang eye-catching di sini. Aku melihat mereka memakai baju lolita. Sebagian yang lain berdandan ala maid. Duh, cakepnya. Tapi lagi-lagi aku grogi apakah aku bisa mendekati mereka. Ingat rekorku direject sudah 100 kali. Dan itu sangat memalukan. Aku harusnya sekarang sudah dipajang di MURI.

Ada telepon masuk aku ambil ponselku dan ada nama Andika di sana. Lho? Andika ada di sini?

“Moshi-moshi?” sapaku.

“Fahmi REJEEEEECCTT Kamu di mana? Nggak ikut ke SOTAM lihat expo?” suara Andika terdengar nyaring di sana.

“Aku udah di sini kale dari tadi, umak di mana?”

“Lho, iya ta? Aku ada di deket stage, lagi nonton MLG48,” jawab Andika yang suaranya makin nyaring.

Aku celingukan dan melihat sebuah stage. Di sana sedang ada performa group vokal lokal MLG48. Ya, sebuah group yang niru Idol Group JKT48 itu tuh. Emang beberapa waktu lalu ada audisi MLG48 di sini. Dan anggota Idol lokal ini tak kalah cakep dengan JKT48 yang asli. Mereka juga meniru gerakan-gerakannya, seperti lagu River yang sekarang ini, dari kejauhan aku bisa lihat bagaimana gerakan mereka sangat kompak.

Aku beringsut untuk mendekat ke kerumunan. Aku menyela-nyela di antara kerumunan dan akhirnya sampai di barisan paling depan. Langsung aku lihat si Andika yang sedang melunjak-lunjak ikuti alunan irama musik. Aku langsung menepuk dia.

“Woi bro! Apa kabaaarr?!” sapanya.

“Baik!” jawabku.

Tak terasa lagu RIVER sudah selesai. Kami pun berhenti dan bersorak.

“Gimana? Ikutan cosplay?” tanya Andika.

“Yoi dong,” jawabku.

“Kostum apa kali ini? Jangan bilang kamen Rider lagi? Aku pasti kalah kalau kamu pake kostum itu, gara-gara kostum itu kami semua langsung ciut nyalinya, soalnya kamu kalau bikin kostum detail banget sih!”

“Hahahahaha,” aku ketawa. Ya, karena ada yang mengakui kelebihanku. “Nggak koq, kali ini kostumnya beda. Kamu tak akan percaya aku nanti pakai kostum apa. Tapi sebelumnya aku butuh tempat buat dandan nih.”

“Eanjir, satu jam lagi lho dimulai!”

“Gampang, tapi aku butuh bantuan nih. Kamu bisa bantu?”

Andika bertanya-tanya, “Hah? Bantuan?”

* * *
“Eh, anjiiirr! Yakin kamu pake kostum ini?” tanyanya.

“Yakin bro,” kataku.

“Dafuq, dafuq, dafuq, dafuq, dafuq, dafuq! SUGOOOOIII!”

“Ah, kamu juga keren koq jadi Uchiha,” pujiku sambil melihat dandanan Andika yang sudah memakai lensa kontak Sharingan. Ya, sekarang Andika dan aku sudah dalam baju cosplay. Dia menjadi seorang ninja dari klan Uchiha dengan mata Sharingannya. Dia meniru karakter dari anime Naruto.

Dan aku, well….sebenarnya aku tidak menjadi Kamen Rider. Wajah, leher dan lenganku dicat putih. Ya, aku memakai masker yang aku lulurkan ke seluruh tubuhku. Aku juga memakai lensa kontak full warna hitam dengan pupil warna kuning. Aku memakai wig warna putih, memakai kimono serba putih. Coba tebak aku menjadi siapa? Yap benar, aku sekarang menjadi alter-ego dari Kurosaki Ichigo dari serial anime dan manga Bleach. Ketika Ichigo ingin menaklukkan Hollow yang ada di dalam dirinya, ia harus melawan dirinya sendiri, bertarung dengan alter-egonya sendiri. Perfect, aku sekarang mirip dia, minus zanpaktou sih. Habis aku tak punya waktu buat bikin pedangnya.

Aku dan Andika menampilkan cosplay hari itu. Semua orang kaget ketika melihatku, mereka banyak memujiku. Ya, aku lebih mirip Shinigami sekarang, mungkin kalau orang-orang Jawa bakal ngira aku ini kuntilanak. Habis full body putih semua, termasuk kimono yang aku pakai. Aku juga memakai kaus kaki dan sandal. Jadi bener-bener mirip alter-egonya Kurosaki Ichigo. Semua orang memujiku, bahkan beberapa minta foto bareng, termasuk cewek-cewek.

Acara hari itu cukup meriah. Ada talk show juga tentang komunitas anime dan manga. Juga ada lomba menggambar karakter manga, dance, dan cosplay. Ternyata banyak juga cosplayer yang hadir, mereka ada yang meranin jadi tokoh-tokoh game seperti Street Fighter, ada yang juga original buatan mereka sendiri seperti salah seorang cewek bernama Siska yang dia menjadi gothic lolita. Ah apa ya? Seperti Sucubus. Dia lumayan seksi dengan baju itu. Banyak cowok-cowok yang deketin buat sekedar selfie. Aku? Ah, nggak. Aku takut untuk mendekat malahan.

“Bro, kenapa nggak ikutan selfie ama Siska?” tanya Andika.

“Nggak deh,” jawabku.

“Ayolah, kalau kamu nggak spik-spik, gimana bisa tahu dia suka nggak ama kamu? Ayo bro, aku bantu deh supaya julukan Fahmi Reject hilang.”

Bener juga yang diomongin oleh Andika. Lagipula taruhan ama Mbak Nurul cuma sebulan. Gila apa sebulan biar bisa dapat cewek. Hadeeeehh…baiklah, OK! Aku pun maju.

“Naah…gitu dong!” Andika menyemangatiku.

Aku segera menghampiri cewek yang bernama Siska itu. Seksi bo’ pake cosplay Sucubus. Rambutnya disemir pake warna silver, dadanya membusung hingga kelihatan belahan dadanya. Aku yakin cowok-cowok pasti suka ama dia gara-gara lihat itu. Pas aku mendekat, dia pasang tampang galak. Eh?? Kenapa?

“Pergi kau jangan mendekat!” katanya sambil menunjuk hidungku.

“Eh? Kenapa?” tanyaku.

“Gara-gara kamu lomba cosplay kemarin aku kalah,” katanya.

Aku dan Andika berpandangan. Sebentar lomba cosplay sebelum ini. OK, aku jadi kamen Rider Kabuto, saat itu heboh karena aku naik sepeda ontel ketika masuk ke pesta copslay. Sebentar Siska, wajahnya nggak asing. Kejadian seru apakah yang terjadi pada waktu itu? Ahhhh….

“Aahhh!” aku dan Andika ingat. Dia Siska yang saat itu memakai baju lolita juga. Pas aku lewat di sampingnya sambil mengayuh sepeda bajunya nyangkut di sepedaku hingga sobek. Dia marah besar waktu itu. Aku ingat, dia ini!

“Temee! Bakemono!” katanya.

Aku dan Andika pun mundur teratur. Semua orang tampak kebingungan menyaksikan kami.

“Yaah…. mana tahu kalau itu Siska yang dulu itu. Beda banget ama yang dulu,” kata Andika. Dia menepuk-nepuk pundakku. “Udah deh bro.”

Akhirnya tibalah pameran cosplay. Semua cosplayer naik panggung. Kemudian juri pun menilai kami semua. Ada beberapa dua kategori yaitu cosplay favorit dan the best copslay. Cosplay favorit ini dipilih oleh semua penonton dan pengunjung. Sedangkan The Best Cosplay yang menentukan adalah juri. Aku cukup terkejut karena cosplay favorit direbut oleh Siska. Mungkin karena “seksi” dia akhirnya menang kategori ini. Aku cukup sebagai cosplay favorit nomor dua. Dan The Best Cosplay akhirnya aku yang menang. Bahkan aku dipuji sebagai cosplayer yang mendapatkan juara berturut-turut. Tapi aku masih saja melihat tatapan dingin Siska, sepertinya ia tak suka kepadaku.

Aku dan Andika pulang sorenya. Mungkin kelewat sore. Aku dan Andika mampir di sebuah rumah makan yang tak jauh dari mall, maklum udah laper beudh. Kami memang tak melepaskan baju cosplay kami. Biar terlihat keren, nyentrik gitu. Hehehehe. Uang hasil menang lomba tadi aku jadikan untuk mentraktir Andika.

“Kapan balik?” tanyaku.

“Ya besok dong, emangnya aku nggak kuliah apa?”

“Hahaha, ya ya ya,” jawabku.

“Enak ya bro, kau ada di Malang, baru masuk kota ini aja ademnya setengah mati,” katanya.

“Jiyaah… bulan-bulan segini emang begini. Biasanya kalau bulan segini sebentar lagi di Jepang sono libur musim panas sebulan lagi. Kalau di kita ya habis ini UAS, trus liburan.”

“Ho-oh, tapi ngomong-ngomong parah banget ya dirimu, ditolak banyak cewek. Trus katamu tadi kamu taruhan ama kakakmu?”

“Iya tuh.”

“Hahahaha nasibmu rek rek.”

“Aku jadi kepikiran apa yang diomongin oleh ibuku kemarin.”

“Apaan?”

“Kalau bisa saja jodohku nggak di negeri ini, nggak di kota ini, tapi di negeri lain?”

“Negeri lelembut?”

“Ebuset, emangnya aku genderuwo?”

“Kostumu itu bisa buat nakutin orang! Apalagi rumahmu kan melewati kuburan, bisa dianggep temennya tuh.”

“Kampret, aku ini Shinigami, setan kali yang takut.”

Andika menghabiskan ramennya. Ia lalu minum es jeruk yang ada di sebelahnya. Aku sedari tadi belum menghabiskan ramenku.

“Kalau memang begitu kenapa kamu nggak nyoba aja browsing-browsing? Sekarang udah jamannya socmed bro. Mulai dari twitter, facebook, Path, kenapa nggak coba cari lewat online?”

Ah, bener juga yah. Tapi…ada banyak resiko kalau aku cari jodoh lewat online.

“Tapi bro, aku takut kalau gagal lagi,” kataku jujur. “Terus terang aku cukup trauma dengan yang terakhir.”

“Yang terakhir? Emangnya siapa?”

“Dosenku sendiri sih.”

“Ebuseett!”

“Aku sebenarnya menduga kalau dia ini orangnya juga sama sepertiku, otaku. Suka anime, manga dan sebagainya. Eh, ternyata semua hadiah-hadiah yang aku berikan malah dikasih ke anaknya. Gilak apa itu action figure One Piece Luffy seharga lima ratus ribu dikasih anaknya. Nangis bombay bro!”

“Anjiiiiirrrrr! Yang dulu kamu kasih aku fotonya itu?”

“He-eh”

“Aduuuuhh…padahal itu aku udah nyari nggak dapet-dapet. Hikss..,” Andika ikut bersedih. Ia memegang bahuku. “Aku tahu perasaanmu kisanak.”

Aku menundukkan wajah. Aku mendengar bisik-bisik.

“Eh, lihat orang aneh pacaran,” kata orang-orang. Aku langsung menoleh kanan-kiri. Yap, mereka semua mengamatiku, pakai kostum cosplay, dan Andika megang bahuku. Ebuset. Kami seperti dua orang memadu kasih. Bukan coy, ane bukan gay, masih normal. Segera Andika dan aku bertingkah wajar dan pura-pura nggak kenal. Kami langsung saja pergi ke kasir membayar makanan setelah itu keluar. Karena aku pakai make-up masker warna putih, mungkin merahnya wajahku bisa disembunyikan, tapi tidak bagi Andika.

Setelah keluar dari rumah makan itu kami ketawa. Kami pun berjalan melewati trotoar. Aku dan Andika nyari angkot untuk pulang. Andika ke rumahnya, aku ke rumahku. Tentu saja begitu, emangnya apaan?

Tak berapa lama angkotnya Andika datang, “Aku duluan bro”

“Oyi sam, hati-hati!” kataku sambil melambai.

Setelah angkotnya Andika pergi, aku pun mencegat angkotku. Tak berapa lama kemudian angkotnya datang. Aku pun naik. Di dalam angkot semuanya menatapku aneh. Iyalah dengan dandanan seperti ini. Masih mending begini, coba kalau aku pake kostum Kabuto, tanduknya bisa patah kalau masuk angkot.

Setelah 45 menit angkotnya berputar-putar aku pun sampai di depan komplek perumahanku. Aku melihat satpam penjaga perumahan dan memberi salam. Satpam ini bernama Pak Abimanyu, panggilanya Abi. Usianya sekitar 40-an.

“Malem pak!” sapaku.

“Eh, siapa!?” balasnya.

“Lho, ini aku pak, Fahmi!” kataku.

“Ealah, koq pake make-up gitu mas? Kirain hantu.”

“Hahahaha, maaf pak. Mari.”

Setelah melewati beberapa rumah aku pun sampai di rumahku.

“Tadaima!” kataku.

Aku langsung masuk. Ransel yang sedari tadi aku bawa aku letakkan di dekat rak sepatu. Saat itu ada Kak Nurul.

“KYAAAAAAAAAA! Setan Setan setan!” Kak Nurul histeris sambil mengambil apa saja yang ada di dekatnya. Kebetulan yang ada di dekatnya sapu. Segera ia mengayunkan sapunya ke arahku.

“Lho, lho, lho. Aduh, aduh, aduh! Mbak ini aku! Fahmi!” kataku.

Terdengar ribut-ribut membuat seisi rumah gaduh. Ibu langsung menuju ke ruang depan. Melihat aku digebuki oleh Kak Nurul ibu langsung menahan tangan Kak Nurul.

“Nur, itu adikmu!” kata ibuku.

Kak Nurul ini emang begini. Ia paling takut ama hantu. Diceritain tentang Casper si hantu baik aja dia takutnya setengah mati. Serius. Makanya ia tak pernah nonton film hantu-hantuan. Ia lebih senang kalau tak ada kata hantu di kamus.

Oke, hasil malam ini aku diketawain oleh ibuku dan kakakku.

“Hahahahaha, maaf dek. Aku kira setan beneran. Habis dandananmu seperti itu,” kata Kak Nurul.

“Ah, dasar mbak kepengen bales dendam bilang aja. Nggak usah pake alasan dikira hantu segala,” kataku. “Nih, kepalaku benjol!”

“Hahahahaha, lha kamu juga tadi perasaan perginya nggak pake gituan, pulangnya malah kaya’ setan,” kata ibuku.

“Maaf deh bun. Ribet kalau ganti di mall,” kataku.

“Hahahahaha, ya udah sana, mandi trus ganti baju,” kata ibuku.

Kak Nurul dan ibuku masih tertawa dengan kejadian lucu tadi. Ah, untung aja nggak dikejar satpol PP dengan baju begini. Tapi apes deh hari ini. Udah disewotin cewek cosplay, dianggap gay, dan dianggap hantu. Mana digebukin lagi ama kak Nurul.

Aku pun segera mandi, membersihkan masker yang menutupi seluruh tubuhku. Kulepas juga lensa kontakku. Kurapikan baju kimono yang aku pakai. Setelah setengah jam sibuk bersih-bersih, aku pun jadi Fahmi lagi. Tapi, dengan benjolan di kepalaku. Apes deh apes.

Aku duduk di kamarku, di depan laptop. Di rumahku memakai internet fiber optic, jadinya aku sering terbantu kalau ingin konek streaming dan lain-lain. Mencari jodoh lewat socmed? Apa salahnya dicoba bukan? Tapi aku harus mulai dari mana?

Ah peduli amat. Aku pun masuk ke akun facebook milikku. Langsung di sana aku disambut oleh banyak notif. Aku tak peduli, karena sebagian berisi ajakan untuk main game. Aku pun bingung sekarang. Cari cewek lewat media online ini bagaimana? Aku harus tahu, bahwa salah satu alasan bahwa para wanita tidak suka kepadaku adalah karena aku adalah seorang otaku. Ya, seorang otaku. Kalau begitu kenapa tidak aku cari saja jodohku di Jepang sono? Di sana otaku bukanlah orang aneh. Ah, mimpi bisa bareng cewek Jepang, mungkin tak pernah terpikirkan olehku.

Dan akhirnya aku pun mengetikkan di form search di facebook. Aku tak tahu, aku tak pernah kenal dengan orang Jepang sebelumnya. Jepang terkenal dengan gunung Fuji. Kenapa aku tidak coba cari cewek yang ada nama Fuji-nya? Oke, ini iseng. Aku ketik nama Fuji. Muncul banyak nama Fuji. Fujiko F Fujio (ini sih pengarang Doraemon), Fuji Astuti (ini orang Indonesia). Aku mencari spesifik, di negara Jepang. Dan muncullah nama itu.

Aku tak tahu mungkin memang benar bahwa jodoh itu misteri. Begitu aku membaca nama itu aku sudah tertarik, terlebih profpicnya juga cakep anaknya. Aku tak tahu kalau nama Fujiwara Keiko akan mengisi hari-hariku setelah itu. Dan aku pun merequest pertemanan dengannya. Sambil aku beri pesan. “Ohaiyo, hajimemashite. Watashi wa Fahmi-san desu. Dozo yoroshiku, onegai ishimasu”

Ah entahlah, aku saat itu hanya menganggap itu sebagai langkah awalku berkenalan dengan orang Jepang. Tapi ini juga adalah awal dari segalanya.

Author: 

Related Posts