Cerita Sex Dark Secret II : Revenge – Part 5

Cerita Sex Dark Secret II : Revenge – Part 5by adminon.Cerita Sex Dark Secret II : Revenge – Part 5Dark Secret II : Revenge – Part 5 Chap 2 Breaking The Habbit Part 1 Suasana di rumah makan Goyang Lidah sore itu tidak terlalu ramai, seperti biasa, rumah makan itu akan dipenuhi dengan pelanggan saat makan siang atau saat makan malam. Dengan matahari yang masih bersinar di ufuk barat, masih belum banyak pelanggan yang […]

tumblr_nrr41xzH151uovewqo9_1280 tumblr_nrr41xzH151uovewqo10_1280 tumblr_ns93svAszI1u41n8xo1_1280Dark Secret II : Revenge – Part 5

Chap 2
Breaking The Habbit
Part 1

Suasana di rumah makan Goyang Lidah sore itu tidak terlalu ramai, seperti biasa, rumah makan itu akan dipenuhi dengan pelanggan saat makan siang atau saat makan malam. Dengan matahari yang masih bersinar di ufuk barat, masih belum banyak pelanggan yang memuaskan rasa laparnya dengan menikmati menu masakan kesukaannya disana.

Namun di pojok rumah makan itu, terlihat dua orang lelaki yang sedang menikmati lalapan dengan nikmatnya, mereka seolah tenggelam dalam dunianya masing-masing. Tidak ada yang istimewa pada kedua lelaki itu, yang satu tinggi jangkung namun dengan mata yang tajam, sedangkan yang satunya berwajah tampan dengan pandangan mata jernih dan penuh dengan kecerdikan.

“Jadi bagaimana, apakah kau sudah menemukan hubungannya?” tanya si lelaki jangkung sambil menikmati segelas es jeruk yang sudah habis setengahnya.

“Masih samar-samar mas,” jawab si lelaki tampan sambil menghirup tehnya yang juga tinggal setengah. Perlahan tangannya menggoyangkan gelas tehnya, mungkin agar teraduk dengan rata.

“Bagaimana dengan kabarnya?” tanya si lelaki jangkung dengan menekankan kata nya.Matanya memandang lekat wajah si lelaki tampan.

Tangan si lelaki tampan yang sedang bergerak memutar gelasnya berhenti. Gelas itupun diletakkanya di meja yang terbuat dari kayu jati.

Sejenak suasana hening diantara mereka berdua sebelum suatu helaan nafas yang panjang terdengar dari si lelaki tampan.

“Keadaannya masih seperti terakhir aku melihatnya, belum ada perkembangan,” kata si lelaki tampan pelan.

“Apa kau tidak akan menjenguknya lagi?”

“Nanti saja setelah dia sadar atau setelah semua ini berakhir,” kata si lelaki tampan tegas. “Apa mas sudah berhasil menemukan apa yang ku minta?” tanya si lelaki tampan mengalihkan pembicaraan.

“Sudah, semua sudah aku bawa, kau sudah menemukan tempat tinggal?” tanya si lelaki jangkung sambil lalu.

“Sudah mas, letaknya lumayan strategis dengan lokasi mereka,” jawab si lelaki tampan sambil tersenyum.

“Baguslah, apa kau akan tetap menunggu mereka bergerak lagi atau bagaimana?” selidik si lelaki jangkung.

“Tidak mas, kali ini, aku yang akan menjadi sang pengawas,” kata lelaki tampan misterius. Kembali keheningan tercipta diantara mereka. Si lelaki jangkung memandang lelaki didepannya dengan tajam, memperhatikan bagaimana karakter rekannya yang berubah sejak pertama kali mereka bertemu.

“Oke, kalau begitu aku pergi dulu, ingat, jangan terlalu memaksa dirimu sampai melewati batas,” kata si lelaki jangkung sambil melangkah keluar.

Rumah makan itu mulai ramai sekarang, beberapa pengunjung mulai memasuki rumah makan itu. Sambil menarik nafas panjang lelaki tampan mengambil sebuah koper yang ditinggalkan oleh lelaki jangkung tadi dan menuju ke kasir untuk membayar makanan mereka.

Dengan langkah panjang dia keluar dan menuju kendaraanya yang terparkir di seberang jalan. Sinar matahari menyinari langkahnya, meninggalkan bayangan hitam didepannya. Wajahnya merona merah, dengan bibir yang tersenyum pelan.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~
“Mbak, jadi?” tanya seorang wanita muda yang hanya mengenakan handuk kepada wanita yang sedikit lebih tua daripadanya. Terlihat pandangan kagumnya ketika tubuh wanita yang lebih tua daripadanya itu. Tubuh yang hanya berbalut sebuah G-String berwarna hitam yang hanya bisa menyembunyikan sedikit bagian paling pribadinya.

“Jadi dong Sis, udah lama nih gak shopping,” kata wanita yang lebih tua sembari berbalik dan melihat pandangan kagum dari wanita yang dipanggilnya dengan nama Sis tadi. Sebuah senyum terlihat dibibirnya ketika melihat pandangan temannya itu.

“Jangan dilihat gitu dong Nona Sisca, nanti kalau pengen gimana? Hihihi” goda wanita yang lebih tua sambil tertawa pelan. Dengan nakalnya tangannya merenggut handuk yang dipakai Sisca, sehingga tubuh ranum wanita berusia sekitar 20 tahunan itu sekarang terlihat jelas.

“Iiiihhhhh…., lebat banget!” kata Nia, wanita yang lebih tua, sambil menunjuk kearah selangkangan Sisca yang ditumbuhi rambut-rambut kemaluan yang lebat.

“Uuuuuhhhh.. kan Mbak Nia yang minta, katanya banyak cowok yang suka sama cewek yang semaknya lebat,” kata Sisca sambil merajuk pelan sehingga wajahnya terlihat lebih muda. Sambil melangkah ke cermin Sisca memandangi vaginanya yang tertutup oleh lebatnya rambut kemaluannya. Sungguh kontras dengan tubuhnya yang putih mulus.

Mereka memandangi tubuh mereka yang terpantul di cermin yang berada di sebuah kamar yang tidak terlalu besar di kompleks panti pijat yang menjadi milik Nia. Dua tubuh yang berbeda dengan kelebihan masing-masing terlihat di cermin. Yang satu tubuh muda dengan payudara yang tidak terlalu besar, begitu pula bagian belakang yang membulat indah. Wajahnya yang segar dengan rambut sepinggang menjadi kelebihan tersendiri baginya. Sedangkan tubuh yang lain terlihat matang, dengan dada dan pantat yang lebih besar dari yang sebelahnya. Wajah yang dewasa dengan pandangan yang penuh dengan asam garam kehidupan terlihat dari wajah Nia.

Yang satu segar dan menawarkan aroma remaja.

Yang satunya sintal dan menawarkan pengalaman.

Spoiler for Sisca dan Nia:

Sisca

Nia

Sisca kemudian melangkah kedekat lemari dan mengambil sebuah tank top berwarna biru dan sebuah celana pendek putih dari kain. Dengan gerakan menggoda dia menuju kedepan Nia dan sambil membelakangi Nia dia mengenakan celana pendek dan ketat itu.

“Eh, gak pake daleman Sis? awas nyelip-nyelip entar..hihihi,” kata Nia sambil melangkah menuju ke lemari. Sama seperti Sisca, dia juga memutuskan mengambil sebuah tank top berwarna putih dan celana pendek hitam. Ketika dia berbalik, Sisca sudah mengenakan atasannya.

“Eh, Sis, tu semak kelihatan hahaha,” tawa Nia melihat bayangan samar semak lebat Sisca dibawah sana dari balik celana pendek putih yang berbahan cukup tipis itu.

“Biarin, wekkk…” katanya sambil memperhatikan Nia yang melepas G-String nya dan mengenakan celana pendek dan atasannya dengan cepat.

“Wah, Mbak Nia ngikut…,” katanya melihat Nia juga tidak memakai daleman. Dan sebersit perasaan iri mucul dihatinya melihat tonjolan payudara dan pantat Nia yang lebih besar dari miliknya.

“Biarin, wekkk… Ayo Sis,” kata Nia mengajak Sisca untuk keluar dari kamar.

“Ayo mbak, eh, pake apa ke malnya mbak?” tanya Sisca bingung.

“Mbak sudah pesen taksi kok, lumayan kemarin dapet bonusnya,” kata Nia sambil ingatannya melayang saat melayani pria India dengan penis super jumbo yang memasuki vaginanya kemarin. Masih terasa penuhnya penis itu mengobrak-abrik liangnya yang lama tak merasakan hujaman penis sebesar itu.

“Ayo mbak, malah bengong!” Kata Sisca sambil menarik tangan Nia. Dengan membawa tas masing-masing mereka keluar kamar dan menuju ke jalan raya. Disana sudah menunggu sebuah taksi berwarna biru.

“Mas, ke mal Kelapa Kuning ya,” kata Nia sambil menutup pintu taksi. Beberapa menit setelah memasuki taksi, Sisca berbisik pelan di telinga Nia.

“Mbak, sopirnya ganteng juga lo…, hihihi,” bisik Sisca sambil melirik ke arah sopir taksi yang sedang serius memandang jalan di depan.

“Kalau suka embat aja Sis,” kata Nia sambil tangannya dengan jahil menyentil puting Sisca yang tercetak dari balik tank top yang dikenakannya.

“Iihhhhh, mbak usil deh…,” seru Sisca dengan wajah memerah.
Mereka melanjutkan pembicaraan dalam diam sampai beberapa menit kemudian mereka sampai di mall yang dituju.

“Ini mas,” kata Nia sambil memberikan ongkos taksi sesuai yang terlihat di argo, lalu dengan langkah ringan mereka menuju kedalam mall.

Selama beberapa jam mereka memuaskan dahaga mereka melihat-lihat dan membeli berbagai macam pakaian, dari pakaian sehari-hari, gaun, sepatu dan kebutuhan lainnya.

“Sis, capeekkkk…,” seru Nia ketika jam hampir menunjukkan pukul sembilan malam. Selain beberapa kantong belanjaan yang memenuhi tangan masing-masing, peluh dan kaki yang pegal merupakan hasil shopping mereka hari ini.

“Kesana aja lagi sekali yuk mbak?” kata Sisca sambil mengusap keringat yang ada didahinya, tangannya menunjuk sebuah stand lingerie dan pakaian dalam.

“Hmmmmm…., boleh deh,” sahut Nia sambil tersenyum, mesum.

Dengan langkah yang tidak secepat saat pertama masuk kedalam mall, dua wanita itu berjalan masuk kedalam salah satu stand yang menjual lingeri dan pakaian dalam. Setelah menitipkan kantong belanjaan mereka di kasir. Keduanya melihat-lihat lingerie yang terpajang di sana.

“Yang ini bagus mbak,” kata Sisca sambil menunjuk sebuah halter babydoll hitam dan tipis.

“Wah, boleh juga tuh Sis, tapi mbak lebih pilih yang ini deh,” kata Nia sambil memperlihatkan sebuah cut out halter tedyy warna hitam yang dilengkapi dengan garter belt.

“Coba yu mbak,” kata Sisca.

“Langsung beli aja yu Sis, laper nih…,” kata Nia sambil menuju ke kasir. Dengan mengangkat bahu Sisca mengikuti Nia yang sudah meletakkan lingerie pilihannya di meja kasir.

“Eh, tunggu bentar mbak,” kata Sisca sambil berbalik dan menuju kesalah satu sudut yang banyak berisi celana dalam dengan berbagai macam model dan warna. Terlihat dia mengambil dua buah celana dalam warna hitam.

“Mbak aja yang bayar ini,” kata Nia sambil membayar lingerie milik Sisca. “Kalau begitu sekalian yang ini mbak, peace…” kata Sisca sambil mengacungkan dua buah jari membentuk huruh V sedangkan tangan yang satunya mengulurkan dua buah celana dalam crotchless.

Dengan langkah lebar Nia berjalan keluar dari toko itu yang diikuti wajah heran Sisca.

“Laper berat ni Sis,” kata Nia memegang perutnya yang rata.

“Hihihi, pantes buru-buru banget mbak,” kata Sisca sambil berjalan disamping Nia yang sekarang menuju kesalah satu cafe yang ada di dalam mall.

“Ihhhh, ” erang Sisca sambil berhenti dan bibirnya mengernyit ringan.

“Kenapa Sis?” tanya Nia heran.

“Yang dibawah nyelip mbak,” jawab Sisca dengan wajah merah.

“Hahahaha…, ” tawa Nia yang membuat Sisca cemberut.

“Nanti benerin Sis, udah deket kok, kan enak juga kalau nyelip dikit, hihihi” kata Nia sambil menoleh kebelakang dan menarik tangan Sisca dan..

Brrruuuggghhhhhhhh!

“Aduh!” desis Nia sambil memegangi pantatnya yang membentur lantai. Tas-tas yang dibawanya berserakan dilantai, sebagian terbuka bahkan lingerienya sampai terlempar keluar.

Sambil menahan sakit di pantatnya, Nia menoleh kearah sesuatu yang ditabraknya tadi.

Mata seorang lelaki memandang terpesona kearah Nia yang jatuh terjengkang dengan kaki mengangkang lebar. Lelaki itu tertegun memandangi camel toe yang terlihat diselangkangan Nia.

“Eh, maaf mbak,” kata lelaki itu sambil membantu Nia merapikan barang-barangnya yang tercecer. Kembali lelaki itu tertegun ketika tangannya menjangkau sebuah lingerie hitam tipis.

“Eh sini!” seru Nia malu ketika lelaki itu tetap menggenggam lingerie Nia. Dengan dibantu Sisca, Nia berdiri dan memandang dengan campuran antara malu dan kagum kearah lelaki yang berdiri didepannya.

“Ayo mbak,” kata Sisca sambil menarik tangan Nia terlihat diam sambil memandang lelaki yang berdiri didepannya. sedikit berat Nia mengikuti tarikan Sisca menuju ke dalam food center yang terletak bersebelahan dengan cafe yang ada dalam kompleks mall.

Terlihat lelaki itu memandangi kepergian dua wanita itu dengan pandangan kagum. Apalagi tadi dia sempat melihat warna gelap di selangkangan wanita yang lebih muda dan ketika mereka berjalan menjauhinya, tidak terlihat garis celana dalam di pantat mereka!

Tidak perlu waktu lama bagi lelaki itu untuk berpikir dan mengikuti kedua wanita itu menuju kedalam food court.

Sisca dan Nia menuju kedalam food court yang memanjang dari barat samapai timur di lantai dasar mall ini. Foot court itu memmiliki lebih dari 25 outlet yang menawarkan berbagai macam jenis masakan asli Indonesia, Chinese dan Japanese dengan puluhan meja yang berisi kursi sebagai tempat makan ditengah-tengahnya.

“Sis, mau makan apa?” tanya Nia sambil memandang deretan outlet yang menyediakan makanan.

“Ayam goreng aja deh mbak,” kata Sisca sambil mengibaskan tangannya didepan dadanya, cukup melelahkan rupanya setelah beberapa jam berjalan-jalan di seputaran mall.

“Mbak sama aja deh,” kata Nia dan memesan dua buah ayam goreng dan es jeruk ,lalu mengajak Sisca untuk duduk disalah satu kursi di dekat outlet ayam goreng itu.

“Eh, mbak, itu lelaki yang mbak tabrak deh,” seru Sisca sambil menunjuk seorang lelaki yang sedang berdiri didepan outlet ayam goreng dimana tadi Nia dan Sisca berdiri.

Dengan penasaran Nia mengikuti arah jari dari Sisca dan benar saja, lelaki yang tadi terlihat berbicara dengan akrab dengan waitress yang ada disana.

Apa dia bekerja disini? Pikir Nia sambil memperhatikan lebih seksama lelaki yang tadi ditabraknya. Lelaki yang berbadan tegap dengan usia sekitar 35-40 tahun. Pakaiannya rapi dengan kemeja dan celana kain. Dari belakang, tubuhnya terlihat menggoda! Bahu yang lebar itu, kearah rambut yang dicukur pendek dan mata..

Eh??? Mata???

Dengan malu Nia mengalihkan matanya dari pandangan lelaki itu, yang sekarang, terlihat mempesona. Pandangan yang semakin dekat dengan dirinya.

“Mbak-mbak yang cantik, ini pesanannya,” kata lelaki itu sambil meletakkan dua piring berisi ayam goreng, dua buah jus ,secangkir kopi hitam dan camilan.

“Kami tidak pesan kopi dan camilan mas?” tanya Sisca sambil menatap bingung kopi dan camilan yang sekarang ada diatas meja.

“Kopinya punya saya, boleh saya gabung kan?” tanya lelaki itu sambil menarik sebuah kursi dan duduk bersama mereka. Nia dan Sisca saling pandang, untuk melarang rasanya sulit kalau dia sudah duduk seperti ini. Lagipula, sebenarnya kecelakaan tadi adalah salah Nia.

“Eh, kenalan dulu, saya Sachi,” katanya sambil mengulurkan tangan kearah Nia. Mau tak mau Nia menjawab uluran tangannya.

“Nia,” jawab Nia pelan.

“Sisca,” jawab Sisca sambil tersenyum. “Sekarang makan dulu ya mas Sachi, Mbak Nia udah kelaparan dari tadi,hihihi” kata Sisca sambil meleletkan lidahnya kearah Nia yang hanya bisa menunduk dengan wajah yang bersemu merah.

“Ouwh, silahkan,” kata Sachi sambil menghitup kopi hitamnya dan melihat handphone yang dibawanya. Sisca hanya bisa tersenyum melihat pandangan Sachi yang melihat bagian dada dari Nia yang terbuka dari bagian leher kaosnya. Kaos itu cukup tipis sehingga siapapun bisa melihat kalau Nia tidak mengenakan apa-apa dibaliknya.

Merasa diperhatikan, Nia yang sedang asyik menyantap ayam gorengnya berhenti dan memandang kedepan. Pandangannya bertemu dengan pandangan bernafsu dari Sachi. Sambil tersenyum, dengan gerakan yang natural Nia meneguk minumannya dan dengan gerakan yang pelan Nia menjilati pinggiran gelas yang berisi dengan titik air jeruk.

Sachi memandangi semua adegan itu dengan jakun yang naik turun, penisnya terasa sudah mengeras di bawah sana. Apalagi matanya yang terlatih bisa melihat kalau ada dua buah titik yang mulai mengeras mulai tercetak dengan jelas di bagian depan kaos Nia.

“Liat apa Mas? Ada yang salah dengan pakaianku ya?” tanya Nia sambil menarik kaosnya kedepan dan itu membuat dadanya lebih banyak terlihat oleh Sachi.

“Aduh, mbak pengen pipis nih Sis, Mas anterin Nia ya?” kata Nia dengan manja sambil beranjak bangun dengan gaya centil dan menarik tangan Sachi berdiri.

Dengan bersemangat Sachi bangun dan hendak mengambil handphone yang ditaruhnya diatas meja ketika dengan lembut tangan Nia mencegahnya sambil mulutnya berbisik pelan di daun telinga Sachi.

“Biar gak ganggu nanti mas…,” katanya pelan sambil mengedipkan mata kearah Sisca yang memandang kepergian mereka dengan iri.

Author: 

Related Posts