Cerita Sex My Boss!!! – Part 10

Cerita Sex My Boss!!! – Part 10by adminon.Cerita Sex My Boss!!! – Part 10My Boss!!! – Part 10 Chapter Sembilan Sheila POV Pagi ini kami berangkat bersama. Aku dan Bosku maksudnya, Tadinya aku tak mau menerima penawarannya untuk pergi ke kantor dengan dia, tapi dengan sifatnya yang pemaksa, dia menyuruhku naik ke mobilnya tanpa bisa kutolak. Entahlah, kadang wanita memiliki sifat yang gampang dirayu dan dipaksa, aku tidak […]

tumblr_mt3d8eqnpk1qc2p2qo6_500 tumblr_mt3d8eqnpk1qc2p2qo7_500 tumblr_mt3d8eqnpk1qc2p2qo8_500My Boss!!! – Part 10

Chapter Sembilan
Sheila POV

Pagi ini kami berangkat bersama. Aku dan Bosku maksudnya, Tadinya aku tak mau menerima penawarannya untuk pergi ke kantor dengan dia, tapi dengan sifatnya yang pemaksa, dia menyuruhku naik ke mobilnya tanpa bisa kutolak. Entahlah, kadang wanita memiliki sifat yang gampang dirayu dan dipaksa, aku tidak tahu itu berkah atau musibah, yang jelas saat ini aku sedang terayu oleh bosku yang menawarkan bonus akhir bulan bila aku mau berangkat kerja dengannya pagi ini. Rendra tahu kalau aku sedang mengalami krisis keuangan. Dia juga mengatakan kalau ini sebagai permintaan maafnya karena pulang sambil mabuk berat tadi malam. Bahkan dengan konyolnya dia menggedor pintu apartement padahal ini apartement milik dia. Mengganggu aktivitas tidurku yang sedang terlelap dengan nyaman saat itu. Begitulah.

Kami sampai di tempat parkir kantorku, lebih pagi dari biasanya. Belum banyak yang datang, atau boleh dibilang kami termasuk yang datang paling awal. Walaupun terlihat dua mobil yang sudah terparkir cantik di sana. Baguslah, aku bisa selamat dari pandangan orang kantor yang akan menatapku tak percaya bila aku datang dengan bosku yang seksi sekarang.

Singkirkan tanganmu, aku menepis tangan yang seenaknya melingkar di pinggangku saat berjalan, tapi dia malah semakin mempereratnya. Lelaki seenaknya!

Mmhh.. apa kita harus melakukannya di sini? ucapnya menggoda, dia ini kenapa, ini tempat umum. Malah mengajakku berbuat mesum di kotak sempit ini. Oh ya, kami sudah berada di dalam lift saat ini, dan tangannya tak henti bergerilya di tubuhku. Aku sendiri tak berhenti untuk berusaha menepisnya.

Jangan macam-macam Pak, kataku penuh penekanan.

Kalau begitu satu macam saja, kau sangat seksi pagi ini babe.. suaranya yang rendah begitu menggodaku, percayalah saat lelaki berucap di sekitar telinga dan leher kita dengan suaranya yang setengah berbisik itu membuat perasaan wanita melayang. Kali ini mulutnya menjelajahi leherku. Astaga. Dia brengsek. Bagaimana kalau liftnya terbuka dan seseorang menemukan kami dengan posisi seperti ini.

Hentikan!! aku mendorong badannya agar menjauh, membuat dia cemberut.

Ayolah quicky sex beberapa menit sepertinya menyenangkan. Sahutnya.

Kau gila!

Dia terbahak. Tepat setelah aku mengumpat pintu lift terbuka, aku berjalan cepat menghindari lelaki mesum itu. Terdengar suara dia tertawa mengejek di belakangku. Huh, merusak suasana pagiku saja. Dia mengejarku dan mensejajarkan langkahnya, berusaha kembali melakukan kontak fisik dengan tangannya yang kembali melingkar di pinggangku.

Le.. lepaskan. Aku mau ke toilet! astaga. Ini tidak boleh, dia semakin pintar saja menghipnotisku. Aku harus pergi dari hadapannya sebelum aku menanggalkan pakaianku di hadapannya. Apalagi mulutnya yang tak henti membisikan kalimat menggoda di telingaku. Oh. Aku bisa gila. Aku lebih memilih pergi ke toilet daripada pergi bersamanya. Sepertinya toilet tempat yang tepat untuk menenangkan hasratku yang naik drastis. Tapi sialnya dia malah mengikutiku.

Pergilah ke ruanganmu bos. Dia terkekeh senang. Kenapa saat bersamaku tingkahnya jadi kekanakan. Bukankah dia terkenal dengan sikap kalemnya itu. Dengan sedikit cepat aku berjalan agar bisa semakin menjauhinya. Namun langkah besarnya malah membuat jarak kami semakin dekat. Aku benci orang itu.

Hei kau mendengarnya?

Apa?

Suara itu. Sepertinya di ruang rapat.

Tidak..aku tidak.. sahutku namun berusaha melebarkan telinga, memangnya dia mendengar apa. Setelah sejenak kami terdiam suara itupun terdengar. Suara bisik-bisik yang terdengar tak jauh dari tempat kami berdiri.

Sepertinya suara desahan. Haha. Lihat. Bahkan pegawaiku saja berani melakukannya. Kenapa kau tidak mau? aku melotot mendengar ucapannya. Bagaimana mungkin dia menyimpulkan secara cepat bahwa itu adalah suara orang yang sedang melakukan seks. Itu tidak mungkin. Baru saja aku berpikir untuk pergi dari tempat itu. Namun bosku malah seenaknya menggiringku mendekati tempat suara itu berasal.

Ahhuh.. suara itu terdengar semakin jelas. Bahkan samar-samat decakan-decakan anehnya sangat terasa. Membuatku sedikit merinding.

Aku tidak menyangka bosku adalah tukang intip, aku mengatakan hal itu dengan pelan sambil mendelik padanya. Namun dia hanya tersenyum nakal. Kami mendekati pintu yang sedikit terbuka itu dan melihat pemandangan erotis di sana. Seorang wanita sedang duduk di meja besar persegi panjang dengan seorang lelaki yang asik memaju mundurkan pinggulnya di sela kaki wanita itu. Aku terperangah dan hampir mengeluarkan teriakan sebelum tangan bosku menutupnya dan berbisik, Diam dan lihat saja.

Aku menelan ludah. Melihat kemeja wanita itu yang acak-acakan dengan kancing yang terbuka dan branya yang tertarik ke atas. Sementara payudaranya tampak dihisap dengan buas oleh lelaki itu. Astaga, wanita itu. Dia Ami! Siapa lelaki itu? Bukankah kemarin aku baru saja mendengar dia mendesah saat melakukannya dengan pacarnya? Bukankah pacarnya tidak bekerja disini? Ini gila. Aku tak menyangka temanku seliar itu, dan lelaki itu.. bukannya dia Arya? Yang setiap hari gencar menggodaku? Dasar, semua lelaki sama saja.

Hm, sepertinya aku harus memberi pelajaran pada kedua orang itu.

Aku memutar bola mataku dan mencibir padanya, Kau tidak pantas mengatakan hal itu setelah mengajakku dengan sebuah quicky seks beberapa menit lalu.

Dia tertawa kemudian mencium pipiku cepat. Haha. Kau benar dan payudaranya besar ya, sepertinya lezat
Aku mematung mendengar perkataannya. Apa Rendra lebih menyukai payudara Ami? Di hadapan kami mereka sedang melakukan French kiss sambil tetap saling memasuki. Aku memperhatikan payudari Ami yang menggantung bebas, memang besar, apalagi ekspresinya yang sedang mengerang terlihat begitu menikmati permainan mereka. Tanpa sadar aku memegang payudaraku sendiri. Lebih kecil dari dia. Tapi tunggu, bukankah aku hanya memegang yang kanan. Lalu kenapa yang kiri..

Tenang saja, aku lebih suka yang besarnya proporsional sepertimu. Kemudian sebuah pijatan lembut mampir di dadaku sebelah kiri. Sial. Dia memanfaatkan kesempatan. Aku memukul lengannya dan melepaskan tangannya yang begitu betah di tubuhku. Dia bos brengsek. Dia tertawa pelan dan malah memelukku dari belakang. Aku meronta tapi pelukannya malah semakin erat.

ugh.. ugh.. Arya terlihat memompakan kejantanannya dengan pelan. Lalu cepat, membuat Ami mendesah sesuai hentakan yang diberikan padanya.

Aku sekarang benar-benar menjadi seorang pengintip. Belum lagi pandanganku yang tak henti melihat ke sekeliling, takut ada orang yang melihat aksi kami. Seperti pencuri yang takut ketahuanmencuri mangga. Entah kenapa aku tak bisa mengalihkan pandangan dari kedua insan itu. Nafasku semakin berat, pemandangan ini membuat libidoku semakin naik. Rendra menciumi leherku dan menggigit daun telingaku. Leherku basah.

Mulut Arya kembali menghisap gunung kembar itu, dan meremasnya sambil tetap memaju mundurkan kejantanannya. Aku melirik Rendra, sepertinya dia merasakan hal yang sama. Dia meremas payudaraku lagi. Kali ini aku tak menolak. Hasratku yang naik membuatku membiarkannya. Kejantanannya mengelus pantatku

Ayo kita ke ruanganku, bisiknya serak.

Aku tidak berusaha menolak, namun dia melumat bibirku dengan ganas, aku melihat matanya yang menyala penuh gairah, membuatku tak kuasa menolak dan membalas ciumannya. kemudian menarik lenganku dengan cepat. Membawaku berjalan cepat ke ruangannya. Jantungku berdebar dengan cepat, apakah aku harus melakukannya? Tapi genggaman tangannya yang hangat membuatku tak mampu berpikir lebih jauh lagi.

Kami sampai di ruangannya kemudian dia mengunci pintu. Tanpa menunggu lebih lama dia menempelkan tubuh kami dan memisahkan jarak di bibir kami. Aku sedikit terbelalak saat bibirnya menyentuhku, memintaku untuk memberikan ruang agar lidahnya bisa memasukiku lebih dalam. hangat dan lembab, aroma mintnya terasa kuat di hidungku pagi ini, dan tak ada aroma rokok kali ini, cukup lama dia bermain di bibirku, menyapu dengan lidahnya, membuat rasa kaget dan berdebar tercampur, belum lagi tubuh kami yang saling menempel walau masih berbalut pakaian kerja. Sambil merengkuhku dalam pelukannya lalu mengelus punggungku dan memegang erat pinggangku.

Tunggu…ngh.. ucapku sedikit melenguh di sela ciuman panas kami pagi ini. Namun dia kembali menempelkan bibirnya dengan ganas, sedikit kasar, menambah intensitas keintiman kami dengan tangannya yang mulai menjelajah masuk ke rokku dan meremas pantatku. Astaga ini nikmat. Belum lagi di perutku terasa benda keras yang menusuk. Ini buruk. Kalau dilanjutkan akan semakin

Tangannya naik ke dalam pakaianku lalu mengelus perutku, kemudian punggungku dan menyentakkan pengait braku lalu meremas benda di dalamnya.

Ng..h kita lanjutkan yang sempat tertunda kemarin, ucapnya penuh gairah, membuatku melayang. Menggeliat geliat dalam rengkuhannya, menerima sensasi yang selalu membuatku lupa diri. Aku balas mencium bibirnya, mencecapnya dan menelusuri mulutnya dengan sedikit tak sabar. Nafsu dalam diriku sudah tak dapat tertahankan lagi. Tanganku menyentuh gesper di pinggangnya, lalu secepat kilat membukanya dan menurunkan resletingnya, mengelus benda yang telah mengacung tegak terbungkus celana dalam. Memijatnya perlahan. Membuat matanya terpejam sesaat, lalu aku mengeluarkannya.

Aku..aku tak tahan lagi.. ucapku tergesa. Tontonan itu memberikan efek luar biasa pada kami.
Dia tersenyum lalu mengangkatku dan mendudukanku di meja kerjanya. Kembali tangannya bergerilya di tubuhku, mengelus pahaku dan sedikit lagi saja dia akan berhasil menyingkirkan selapis kain yang kini melindungi bagian bawahku,

Tok tok tok

Kami tenggelam dalam pusaran gairah hingga tak peduli lagi keadaan sekitar

Tok tok tok

Sedikit lagi saja, dia akan memasukiku, membawaku menuju kenikmatan dunia yang..

Tok tok tok

Shit.. aku benci pengganggu! umpat Rendra masih parau, namun sepertinya sudah tak berniat lagi melanjutkan kegiatan kami. Dia menatapku sekilas kemudian merapikan bajuku, mengaitkan ikatan braku dan mengancingkan kemejaku yang sudah sepenuhnya terbuka. Merapikan rambutku dan mencium puncak kepalaku. Membuatku sedikit tersipu dengan perlakuan lembutnya. Kemudian membenahi dirinya sendiri yang tidak kalah berantakan.

Buka pintunya, kita lanjutkan nanti, sahut dia lalu memberikan kecupan terakhir di bibirku. Suara pintu itu terdengar semakin keras. Aku beringsut menuju pintu dan membukanya setelah yakin tak ada yang salah dengan penampilanku. Sejenak terpaku dengan pemandangan seseorang yang kukira mengetuk pintu dan mengganggu aksi panas kami. Seorang wanita berkulit putih memakai kacamata hitam, dan lipstick merah merekah tersenyum angkuh. Blazernya yang berwarna merah menambah seksi penampilannya.

Bosmu ada? katanya lalu dengan tak sopan masuk ke ruangan bosku, Rendraaaa. Teriaknya dan berlari ke pelukan Rendra lalu mencium bibirnya serta melingkarkan kedua tangannya di leher bosku.

Kejadian itu begitu cepat, menimbulkan sensasi aneh yang menyeruak langsung di dalam hatiku, perasaan tak nyaman melihat adegan itu. Rendra yang sepertinya terkejut dengan serangan mendadak itu tak berusaha menghindar atau menolak. Apa dia menikmatinya?

Aku menahan nafas, sekilas mataku bertemu dengan mata Rendra dan ciuman mereka terlepas. Dia berdehem,

Apa maumu? Tanya dia kepada wanita itu, namun wanita itu malah tersenyum menggoda dan membisikan sesuatu kepada Rendra, membuat dahi bosku berkerut.

Sheila, sepertinya aku butuh berbicara berdua dengannya, ucapnya. Aku mengangguk dan menundukan pandanganku, entah kenapa aku merasa takut. Kemudian keluar dengan menutup pintu duduk di mejaku dengan lemas. Berusaha mencerna semua yang terjadi. Bahkan belum sampai lima menit yang lalu kami terlibat ke dalam sebuah aura seksual di ruangan itu. Namun dalam sekejap pemerannya berganti. Aku merasa..sedikit..dibuang.

Menit demi menit berlalu. Entah ke berapa kalinya aku melirik pintu itu, berharap dia segera terbuka dan aku bisa menemukan wajah bosku yang tadi sempat menggodaku. Rasanya begitu lama aku menunggu kegiatan mereka di dalam sana. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan. Siapa wanita itu? Apakah mereka melakukan seks di sana? Apakah Rendra menggantiku dengan wanita itu? Aku mengerjapkan mataku lalu menggeleng. Sebuah penolakan mampir bertubi-tubi di otakku berbanding terbalik dengan kenyataan yang beberapa saat lalu kulihat. Semua hal ini membuat nafasku sedikit sesak.

Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi pada diriku saat ini, dan hal yang kutunggu sejak tadi akhirnya terjadi. Pintu itu terbuka, memperlihatkan dua sosok yang tadi sempat menghilang di balik pintu itu. Lalu sebuah kenyataan kembali mampir di mataku, penampilan wanita itu sedikit kusut, berbeda saat kulihat pertama kali. Bibir merahnya sedikit pudar, walau tak terlihat berantakan, rambutnya yang tadi terikat menggulung kini tergerai. Dia membuatku menerka-nerka tentang apa yang sebenarnya terjadi saat aku meninggalkan Rendra dengan wanita ini.

Batalkan jadwalku hari ini, dan segera pesankan tiket ke Palembang untuk hari ini, aku menoleh ke arah sumber suara.

Bukankah rencananya besok pak? tanyaku yang berusaha menormalkan suaraku walau sedikit bergetar.

Ada urusan mendadak, sepertinya sedikit lama di sana, akan kuhubungi lagi nanti, pungkasnya lagi lalu pergi dengan wanita itu yang melingkarkan tangannya di lengan bosku. Aku mendadak pusing. semuanya terasa begitu cepat.

Author: 

Related Posts